Senin, April 15, 2024
BerandaFEATUREH Asan Pejuang Sampit Namanya di Abadikan Menjadi Nama Bandara

H Asan Pejuang Sampit Namanya di Abadikan Menjadi Nama Bandara

Sejarah Bandara H Asan di Sampit, lahannya merupakan hibah seorang pejuang bernama H Asan

Bandar Udara (Bandara) di Kota Sampit bernama Bandara H ASAN SAMPIT, pengambilan nama tersebut ditetapkan pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur karena mengenang dan menghargai nama tokoh pejuang kemerdekaan yang menghibahkan tanah miliknya untuk dijadikan bandara.

Sebagaimana juga disampaikan anak kandung H Asan Bin H Muhammad Arsyad yakni H Uni Bin H Asan pada Rabu 23 Agustus 2023.

H UNI Bin H Asan

H Uni Bin Hasan mengatakan nama lengkap orang tua saya H Asan Bin H Muhammad Arsyad, lahir di Sampit pada 10 Januari 1887 silam dan wafat dalam usia 82 tahun yakni pada hari Rabu 19 Juli 1969, pukul 19:20 WIB di Sampit,” makam beliau ada dibelakang rumah saya ini,” katanya.

Disela-sela kesibukan menjaga warung yang berada didepan rumahnya H Uni menceritakan asal nama Bandara H Asan Sampit diambil dari nama orang tuanya. Orang tua saya H Asan Bin H Muhammad Arsyad dengan iklas dan sukarela hak pakai sebidang tanah miliknya kepada pemerintah untuk dijadikan lapangan terbang pada tahun 1958.

“Ini foto copy berupa Surat Keterangan Kematian orang tuanya H Asan Bin H Muhammad Arsyad dan Surat Penghargaan dan terimakasih yang diberikan Bupati Kepala Daerah Kotawaringin Timur, C. Mihing yang bertindak atas nama Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Tengah,” sebutnya sambil menunjukkan surat-surat tersebut.

Misnato Penulis Feature

Ia menjelaskan sambil memperlihatkan surat penghargaan tersebut, menurutnya pada tahun 1960 penghargaan ini diberikan pemerintah kepada orang tua saya, tahun tersebut dahulunya berada di Kampung Baamang Hulu, Katjamatan Mentaja Tengah, Kewedanaan Sampit Barat, Daerah Kotawaringin Timur, untuk dijadikan lapangan terbang.

Sekarang letak tanah tersebut tepatnya berada di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

“Dulu namanya lapangan terbang Haji Asan, sekarang namanya sudah kreen BANDARA H ASAN SAMPIT,” terangnya sambil tersenyum H Uni Bin Hasan kepada awak media.

Ditambahkannya lagi waktu itu tanah yang diwakapkan orang tua saya sepanjang 1500 meter dan lebarnya 100 meter, namun waktu itu landasan pacu lapangan itu hanya dibuat sepanjang 600meter saja, karena pesawat yang turun naik hanya pesawat kecil saja.

“Penamaan Bandara H ASAN SAMPIT ini, jujur bukan dari kami memberikan Namanya namun itu dari pemerintah Kotim sendiri, mungkin untuk mengenang nama beliau,” terangnya lagi.

Menurut H UNI nama Bandara H ASAN SAMPIT cukup bagus diberikan, sebagaimana pepatah mengatakan,” Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama, nama baik tentunya,” paparnya dengan senyum.

“Penyerahan tanah tersebut dihibahkan secara iklas dan cuma-cuma tanpa ganti rugi atau imbalan, namun pemerintah saat itu pernah mengucapkan janji, jika ada keluarga atau generasi dari bapak H Asan berminat bekerja di bandara itu akan diterima tanpa melalui seleksi atau test, itu saja,” ungkapnya.

Waktu mudanya sempat juga ikut bergrilya berjuang di Kalimantan Selatan (Kalsel), setelah pulang ke Sampit beliau alih profesi.

Setelah tiba di Sampit lanjutnya waktu itu Indonesia belum merdeka masih dalam pengngusaan penjajah, beliau berprofesi sebagai petani dan sebagai paranormal bisa membantu masyarakat jika ada yang sakit untuk diobati.

Beliau juga pernah ditangkap belanda karena difitnah tempat para pejuang kemerdekaan berkumpul dan minta pendapat. Hanya satu minggu saja katanya bapak saya sudah dilepas dari tahanan.

Uniknya ketika bapak saya mau dipukul ditahanan, tangan orang yang mau memukul bapak itu terkakang sakit atau tidak bisa digerakan jadinya seperti patung, sehingga yang mau memukul itu minta ampun dan menjadikan orang tua saya sebagai orang tua angkat.

Kepada kami anak-anaknya almarhum itu sangat tegas dan disiplin, jika ia ngomong A tidak ada satupun yang berani membantah dan selalu menuruti keinginannya.

Kesehariannya beliau bertani dan selalu membuka lahan baru jauh dari kampung, dan mendukuh dihutan, jika ada yang mau berobat dan pejuang mau koordinasi terpaksa datang keladangnya.

Rata-rata orang yang minta tolong atau berkoordinasi kepada beliau tidak diminta imbalan satu persenpun, namun orang-orang yang datang itu dengan iklas membantu beliau untuk membersihkan lahan dan menanamnya, baik menanam padi maupun menanam karet ataupun rotan dikebun beliau.

“Jadi beliau itu sebentar saja waktunya untuk membuat kebun dan sawah karena bantuan tersebut,” tutupnya.

H Asan Pejuang Kemerdekaan yang terus bekibar namanya, karena nama itu abadi sepanjang zaman dengan dijadikan Nama Sebuah Bandara Yakni Bandara H Asan Sampit.

*Penulis : Misnato

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine
Sabu

Miliki Puluhan Gram Sabu Wanita 23 th Ditangkap

Kuala Kapuas - Karena kedapatan membawa dan memiliki puluhan gram kristal bening diduga narkotika jenis sabu, seorang wanita muda berinisial DM (23) ditangkap polisi. DM...

Most Popular