Viral RSUD Rantau Prapat Diduga Telantarkan Pasien Hingga Tewas, Direktur Rumah Sakit Bungkam

Gerbong Informasi .Com,Labuhan Batu : Ruang perawatan “MELATI” RSUD Rantau Prapat menjadi saksi bisu dari hancurnya rasa kemanusiaan dan profesionalisme medis. Sebuah rekaman video amatir yang disebarkan oleh akun TikTok siharsihombing pada Sabtu (11/7/2026) mendadak menjadi sorotan tajam publik. Video tersebut mempertontonkan detik-detik mengerikan saat nyawa seorang pasien, Sigit Udayana, perlahan melayang di tengah pengabaian masif yang diduga dilakukan oleh oknum tenaga kesehatan rumah sakit pelat merah tersebut.

Prahara ini bermula ketika almarhum pasien dilarikan ke rumah sakit milik Pemkab Labuhanbatu ini pada pukul 09.00 WIB pagi akibat serangan sesak napas akut dengan riwayat komplikasi penyempitan ginjal. Bukannya disambut dengan tindakan kegawatdaruratan yang responsif layaknya standar rumah sakit BLUD Kelas B, keluarga korban justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Selama dua jam penuh di masa-masa paling krusial, pihak keluarga dipaksa pontang-panting menyusuri lorong rumah sakit, mengemis waktu, dan mencari keberadaan dokter maupun perawat yang mendadak “gaib” saat pasien mulai megap-megap di ambang maut.

Bobroknya pelayanan di RSUD Rantau Prapat ini dinilai sangat ironis dan mencoreng wajah pemerintah daerah. Pasalnya, Kabupaten Labuhanbatu saat ini dipimpin oleh Bupati dr. Hj. Maya Hasmita, Sp.OG., MKM., yang berlatar belakang sebagai seorang dokter spesialis sekaligus praktisi kesehatan. Publik mengecam keras bagaimana tragedi penelantaran pasien yang begitu fatal bisa terjadi di bawah pengawasan seorang kepala daerah yang seharusnya jauh lebih sensitif, paham kode etik medis, dan mengerti betul urgensi penyelamatan nyawa manusia di fasilitas kesehatan milik Pemkab tersebut.

bukti konfirmasi wartawan kepada Direktur Rumah Sakit

Kelalaian fatal yang terstruktur ini akhirnya memicu bom waktu pada pukul 22.30 WIB malam, saat almarhum pasien dinyatakan meninggal dunia setelah melewati fase kritis tanpa kepedulian medis. Dalam potongan video yang viral, situasi di dalam ruangan tampak sangat mencekam. Bunyi alarm dari monitor medis terus memekik konstan tanpa henti—sebuah indikator absolut bahwa pasien dalam kondisi code blue atau sekarat. Namun, alarm peringatan nyawa itu seolah hanya dianggap angin lalu oleh para petugas.

Keadaan semakin menyulut amarah ketika perekam video yang menangis histeris mencoba meminta pertanggungjawaban. Kamera sempat menyorot seorang oknum dokter wanita berhijab biru yang dengan dinginnya melangkah pergi membelakangi keluarga, berjalan menuju meja administrasi seolah-olah nyawa di atas brankar tersebut bukan urusannya. Pihak medis, termasuk perawat berseragam merah marun, baru bergerak secara beramai-ramai mendekati bed pasien setelah menyadari bahwa kebobrokan kerja mereka sedang direkam secara langsung. Kepanikan terlambat itu sia-sia, karena video ditutup dengan runtuhnya ketahanan mental keluarga yang mulai membimbing doa di telinga jenazah almarhum.

Hingga rilis ini disebarluaskan, Direktur RSUD Rantau Prapat, dr. Adi Subrata, Sp.A., M.K.M. saat dikonfirmasi awak media di nomor pribadinya 08116260 5XXX memilih mengambil langkah aman dengan menutup diri dan bungkam total dari kejaran konfirmasi. Tidak adanya pernyataan resmi dari pihak manajemen maupun respons cepat dari Bupati dr. Maya Hasmita selaku pemegang kebijakan tertinggi semakin menegaskan buruknya pengawasan terhadap keselamatan pasien. Publik kini mendesak pihak kepolisian dan Kementerian Kesehatan untuk turun tangan mengusut tuntas dugaan malpraktik pembiaran ini agar tidak ada lagi nyawa rakyat kecil yang tumbang akibat kelalaian birokrasi kesehatan. ( Suriyanto )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini